
Selama bertahun-tahun, masyarakat Indonesia mengenal pedoman makan sehat dengan istilah 4 Sehat 5 Sempurna. Konsep ini sangat populer, terutama di sekolah, sebagai panduan memilih makanan yang dianggap sehat. Namun, seiring perkembangan ilmu gizi, pedoman tersebut dinilai sudah tidak cukup relevan dan tidak menggambarkan kebutuhan gizi masyarakat modern.
Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI mengganti pedoman tersebut menjadi Pedoman Gizi Seimbang (PGS) yang diperkenalkan dalam bentuk Tumpeng Gizi Seimbang.
Mengapa 4 Sehat 5 Sempurna Tidak Dipakai Lagi?
Konsep lama ini hanya menekankan:
Makanan pokok
Lauk pauk
Sayur
Buah
Ditambah susu sebagai “penyempurna”
Masalahnya, konsep tersebut tidak menjelaskan:
Proporsi makanan
Batasan gula, garam, dan lemak
Pentingnya aktivitas fisik
Kebersihan diri & cuci tangan
Variasi makanan
Kebutuhan sesuai usia, kondisi, dan gaya hidup
Risiko penyakit tidak menular (diabetes, hipertensi, obesitas)
Dalam konteks kesehatan masyarakat saat ini, pedoman tersebut dianggap kurang lengkap.
Tumpeng Gizi Seimbang: Pedoman Gizi Versi Modern
Tumpeng Gizi Seimbang adalah visual pedoman yang berbentuk tumpeng, terdiri dari beberapa lapisan yang menggambarkan:
1. Dasar: Air putih
Tubuh memerlukan cukup hidrasi setiap hari, sekitar 6–8 gelas untuk orang dewasa.
2. Lapisan kedua: Aktivitas fisik & kebersihan diri
Ini menunjukkan bahwa gizi seimbang tidak hanya soal makanan, tetapi juga pola hidup sehat.
3. Lapisan ketiga: Aneka makanan pokok
Memprioritaskan sumber karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti, sereal, atau jagung.
4. Lapisan keempat: Lauk pauk
Mengandung protein hewani dan nabati, seperti ikan, telur, ayam, tempe, tahu, kacang-kacangan.
5. Lapisan kelima: Sayur dan buah
Menekankan pentingnya konsumsi sayur dan buah setiap hari untuk serat, vitamin, dan mineral.
6. Puncak tumpeng: Gula, garam, dan lemak dibatasi
Gula maksimal 50 g/hari
Garam maksimal 5 g/hari
Lemak maksimal 67 g/hari
